Relevansi Kursus Persiapan Perkawinan

Maraknya dan kompleksnya masalah perkawinan dalam abad ini membuat kaum muda merasa bimbang dan ragu tentang peluang mereka untuk mencapai sukses dalam perkawinan. Di satu pihak mereka merasa cinta kasih sudah cukup untuk menjamin kelanggengan  hidup perkawinan. Di lain pihak mereka menghadapi kenyataan bahwa penyelewengan terhadap perkawinan semakin meluas di tengah  masyarakat bahkan sering diakhiri dengan perceraian.

Zaman berubah dengan pesatnya di seluruh kawasan dunia, juga di Indonesia. Sedemikian pesat perubahan zaman, sehingga manusia belum sempat menyesuaikan diri dengan satu situasi baru. Perubahan tersebut melanda pemahaman, pengkhayatan dan pola laku individu dan masyarakat. Kehidupan seks, perkawinan dan hidup berkeluarga tidak luput dari lindasan perubahan tersebut. Besarnya pengaruh perubahan jaman itu, juga diungkapkan oleh J. Riberu:
Tadi kehidupan seks, kehidupan nikah  dan kehidupan keluarga dianggap sesuatu yang sacral, yang tidak dibicarakan begitu saja di depan umum. Sekarang dipertontonkan, malahan direkayasakan dan diperjualbelikan. Adegan-adegan seks sampai yang paling berani disajikan dalam film-film […]. Yang lebih merisaukan ialah beredarnya pelbagai paham yang merubah citra seks, citra nikah dan citra kehidupan keluarga di dalam tata pikir manusia.
Melihat reaksi masyarakat seperti itu, Gereja lewat kursus persiapan perkawinan melayani kebutuhan anggota Gereja, khususnya kaum muda. Gereja melalui kursus persiapan perkawinan memberikan pemahaman dan pandangan kristiani tentang perkawinan. Oleh karena itu kursus persiapan perkawinan sebagai salah satu bentuk pelayanan bagi kaum muda hendaknya menyentuh seluruh lapisan kaum muda.

Dengan kata lain, mereka yang sederhana dan secara formal kurang berpendidikan jangan diabaikan.
Oleh karena itu kursus persiapan perkawinan bagi kaum muda sangat penting dan tidak perlu disangsikan lagi.  Kursus persiapan perkawinan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan perkawinan yang stabil dan langgeng  yang merupakan faktor mutlak untuk tercapainya kebahagiaan suami istri, masyarakat dan Gereja. Dengan demikian nilai-nilai luhur hidup perkawinan yang sudah diterima lewat kursus  persiapan perkawinan akan  menjiwai pemahaman kaum muda tentang perkawinan.

Kaum muda memandang perkawinan tidak lagi sebatas legalisasi hubungan seks, tetapi perkawinan akan mereka pahami  juga sebagai sesuatu yang luhur dan agung itu, nilai-nilai luhur perkawinan yang menentukan pandangan hidup mereka tentang perkawinan. Bahkan, menurut pengalaman pembinaan kursus, kaum muda yang dibina lewat kursus persiapan perkawinan akan lebih berhasil dalam hidup perkawinannya dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengikuti kegiatan ini. **Fidelis Harefa.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget