Paroki Santa Maria

GEREJA KATEDRAL KEUSKUPAN PALANGKA RAYA
Jl. Tjilik Riwut No. 5, Kelurahan Palangka; Kecamatan Jekan Raya; Kota Palangka Raya 73111;
Telp. (0536) 3221624; Fax. (0536) 3236049
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Paroki Santa Maria

Latest Post


PETUGAS  LITURGI :
1. Hari Sabtu 13 Juli 2019 : Gereja Santo Yosef, Pukul 17.00 WIB
Koor, Persembahan   :  Lingk. Sto. Petrus
Organis              :  inocentius
Kom. & Lektor I       :  Fransiska Sagita
Lektor II                   :  Yuvensius
Pemazmur           :  Rudolfus Tumari
Pembagi Komuni      :  Sr. SSpS 1 orang.
Petugas Tatib           :  Lingk. Sto. Arnoldus Janssen

2. Hari Minggu 14 Juli 2019: Gereja Katedral, Pukul 07.00 WIB
  Koor, Persembahan       :  Inkulturasi Sumatra
  Organis               :  Petugas khusus
  Kom. & Lektor I       :  Savera Mongi
  Lektor II                       :  Lusia Natalia Dewi D.
  Pemazmur               :  Yosephin Situngkir
  Pembagi Komuni       :  Sr. SSpS  4 org, Sr. SPC 2 org,
  Petugas Tatib               :  Petugas khusus

3. Hari Minggu 14 Juli 2019: Gereja Katedral, Pukul
Organis               :  Stefanus DM
Kom.& Lektor I       :  Wahyu Ricky Wijaya
Lektor II                       :  Margareta Nora Dela
Pemazmur               :  Felix Rodja
        Pembagi Komuni       :  Sr. SSpS 2 org, Sr. SND 2 org, Sr. SMI 2 org.
Petugas Tatib                :  Lingk. Sta. Sisilia

Dari Pastor Paroki

  1. Pendaftaran calon baptis bayi dibuka mulai tanggal 17 Juni 2019 sampai dengan tanggal 15 Juli 2019.
  2. Pembinaan orangtua dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2019, Pukul 09.00 WIB. Dan pembaptisan akan diaksana pada tanggal 27 Juli 2019. 
  3. Terakhir pengumpulan formulir pendaftaran Krismawan, Krismawati pada tanggal 20 Juli 2019. Dimohon bagi yang belum mengembalikan formulir bisa segera mengembalikan ke sekretariat paroki pada setiap jam kerja. 

KEGIATAN LINGKUNGAN

  • Lingkungan St. Petrus : Doa di Rumah Bpk. FX. Agus Susanto, Jalan Rajawali 1 Gang II, Senin 08 Juli, Pukul 18.30 WIB.
  • Lingkungan St. Clara : Misa syukur di Rumah Bpk. C. Kuntadi Ngroho, Jln. Menteng X, Jumat 12 Juli, Pukul 18.00 WIB.
  • Lingkungan Sta. Anna : Doa di Rumah Ibu Anna Silvia, Jln. Pinus Komplek BTN Pilau Indah No. 30, Senin 08 Juli, Pukul 18.00 WIB.
  • Lingkungan Sto. Laurensius :  Misa Arwah, di Rumah Bpk. Frenky, Jln. G. Obos XIII Gang Gadur Batur No. 5, Kamis 11 Juli, Pukul 18.00 WIB.
  • Lingkungan St. Arnoldus Janssen : Misa Arwah, di Rumah Bpk. Petrus Sugino, Jln. Bukit Raya XVII C, Kamis 11 Juli, Pukul 18.00 WIB.
  • Lingkungan Sta. Sisilia : Misa syukur, di Rumah Bpk. Damaianto, Jln. Pasendang RTA Milono, Rabu 10 Juli, Pukul 18.00 WIB.

Petugas Misdinar  :

  1. Sabtu 13 Juli 2019 Gereja Santo Yosef, Pukul 17.00 WIB: Via, Angel, Benning, Prio.
  2. Minggu 14 Juli 2019  Gereja Katedral, Pukul 07.00 WIB : Dea, Wemer, Wulan, Intan, Rafael, Frenkly, Fortun, Alexa.
  3. Minggu 14 Juli 2019 Gereja Katedral, Pukul 17.00 WIB : Selma, Kelin, Intan, Amara, Guido, Gama, Alfin, Andrea.



WARTA PAROKI/PENGUMUMAN
Sabtu 29 Juni & Minggu 30 Juni 2019
PETUGAS  LITURGI :

Hari Sabtu 06 Juli 2019 : Gereja Santo Yosef, Pukul 17.00 WIB
Koor, Persembahan               : Lingk. Sto. Lukas
Organis                      : Dani
Komentator & Lektor I : Rosalia Udes
Lektor II                     : Hana Sinaga
Pemazmur                    :  Maria Fransiska Taringan
Pembagi Komuni           :  Sr. SSpS 1 orang.
Petugas Tatib               :  Lingk. Sto. Antonius

Hari Minggu 07 Juli  2019 : Gereja Katedral, Pukul 07.00 WIB
  Koor, Persembahan     :  Lingk. Sta. Maria
Organis                     :  Berta Rina
Komentator & Lektor I :  Yustinus Hendra
Lektor II                     :  Yosephine Yunari
Pemazmur                  :  Kristina Ika
         Pembagi Komuni         :  Sr. SSpS  2 org, Sr. SND 2 org, Sr. SMI 2 org.
Petugas Tatib             :  Lingk. Sta. Anna

Hari Minggu 07 Juli  2019 : Gereja Katedral, Pukul 17.00 WIB
Koor, Persembahan               :  Lingk. Sta. Theresia
Organis                     :  Sanjai
Komentator & Lektor I :  F. A. Endro
Lektor II                     :  Kania Claranisza
Pemazmur                   :  Alalanda Ludus Saingan
         Pembagi Komuni        :  Sr. SSpS 4 org, Sr. SPC 2 org.
Petugas Tatib             :  Lingk. Sto. Fransiskus Xaverius

PENGUMUMAN PERKAWINAN
Akan saling menerimakan Sakramen Perkawinan:

1.     Dibacakan untuk pertama kalinya Saudara Vinsensius Waso anak dari Bpk. Petrus Septu dan Ibu Matilde Wae dengan Saudari Rosalina Muja anak dari Bpk. Benediktus Wolo dan Ibu Benedikta Meze keduanya dari Lingkungan Sto. Laurensius Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya Keuskupan Palangka Raya.
2.     Dibacakan untuk kedua kalinya  Saudara Raymundus Rhyan Aditya Sinaga anak dari Bpk. Rusdin Sinaga dan Ibu Adi Darmi dari Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya Keuskupan Palangka Raya dengan Saudari Ririn Karlina anak dari Bpk. Andrias dan Ibu Lensy dari Paroki Santo Mikhael Tamiang Layang Keuskupan Palangka Raya.
3.     Dibacakan untuk ketiga kalinya Saudara Maximilianus Ely anak dari Bpk. Persie dan Ibu Setiawati dari lingkungan Sta. Theresia Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya Keuskupan Palangka Raya dengan Saudari Maria Eria Agustin anak dari Bpk. Sulpinus dan Ibu Miati dari Paroki Santo Mikhael Tamiang Layang Keuskupan Palangka Raya.
Barang siapa mengetahui adanya halangan perkawinan dari pasangan tersebut dimohon untuk segera laporkan kepada Pastor Paroki.


KEGIATAN LINGKUNGAN
@    Lingkungan St. Petrus : Misa pelindung lingkungan di Rumah Bpk. Andosius Atak, Jln Rajawali 1 Gang 1, Senin 01 Juli,  Pukul 18.30 WIB.
@    Lingkungan St. Clara : Misa syukur komuni pertama di Rumah Bpk. Hernimus, Jln. Menteng III ujung, Senin 01 Juli, Pukul 18.00 WIB.
@    Lingkungan St. Anna : Misa Arwah 1 tahun, di Rumah Ibu Josephine Yunary, Jalan Antang Kalang III No. 07 Rabu 03 Juli,Pukul 18.00 WIB.
@    Lingkungan St. Bernadetha : Misa Arwah di Rumah Ibu Darmawansyah Alen R, Jln. Putri Junjung Buih II, No 23, Jumat 05 Juli, Pukul 18.00 WIB.
@    Lingkungan St. Arnoldus Janssen :
1.   Doa di Rumah Bpk.Marsel Bans, Jln. Bukit Gloria, Kamis 04 Juli, Pukul 18.00 WIB.
2.   Misa Syukur di Rumah Bpk. F. Samsu, Jln. Bukit Indah V ujung, Jumat 05 Juli, Pukul 18.00 WIB.
@    Lingkungan Sta. Sisilia : Doa di Rumah, Ibu Lewin Thedja, Jln. Perum Bangas Permai RTA Milono km 4, Kamis 04 Juli, Pukul 18.00 WIB.
@    Dari Lansia Santo Sebastianus : Pertemuan lansia dilaksanakan pada hari Minggu 07 Juli 2019, di Petuk Kliti Bagugus, Jln Palangka Raya Buntok. Berangkat dari Pangka Raya Pukul 07.00 WIB, tempat berkumpul dihalaman Gereja Katedral.  Acara, doa dan rekreasi dilapangan terbuka dikebun Romo Betras. Dimohon untuk para  peserta yang ikut bisa mendaftar dengan Ibu Lewin Theja, Ibu Suparthin . dengan biaya pendaftaran Rp. 25.000,-. Terima Kasih
@    Petugas Misdinar  :
1.    Jumat Pertama 05 Juli 2019 Pukul 17.00 WIB: Exel, Yuven, Yoga, Itan, Thomas, Gabriel.
2.    Sabtu 06 Juli 2019 Gereja Santo Yosef, Pukul 17.00 WIB: Nikea, Agret, Marcello, Adven.
3.    Minggu 07 Juli 2019  Gereja Katedral, Pukul 07.00 WIB : Noni, Anya, Gres, Aldo, Yuven, Donis, Itan.
4.    Minggu 07 Juli 2019 Gereja Katedral, Pukul 17.00 WIB : Evan, Pascal, Kezia, Alexa, Basten, Reno, Yogi, Balinga.

Penghitungan Suara Pemilihan Ketua Lingkungan
St. Yohanes Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya
Pedoman ini adalah pedoman yang berlaku secara umum. Artinya, inilah yang menjadi garis besar yang dapat diperhatikan oleh setiap Ketua Lingkungan di mana-mana. Namun demikian, di setiap paroki pasti ada pengaturan lain disesuaikan dengan kebijakan pastoral. Misalnya, untuk Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, ada pedoman khusus yang telah dibukukan dan boleh diminta di sekretariat paroki.

Ketua Lingkungan diangkat dengan keputusan oleh Dewan Pastoral Paroki Harian dari antara calon-calon yang diusulkan melalui musyawarah umat lingkungan yang bersangkutan.

1. Susunan  Pengurus Lingkungan disesuaikan dengan kebutuhan, tetapi sebaiknya terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara dan beberapa ketua seksi tingkat Lingkungan.
2. Para Ketua Lingkungan dalam periode pelayanan tertentu seyogyanya dilantik oleh Pastor Kepala dalam suatu Perayaan Ekaristi.
3. Tugas-tugas Pengurus Lingkungan:

  • melakukan pendataan warga Lingkungan dengan tujuan supaya mereka makin terlayani;
  • mengatur penyelenggaraan ibadat bersama, pendalaman iman dan Ekaristi bagi warga Lingkungan;
  • mengusahakan terwujudnya semangat persaudaraan dan pelayanan antar warga Lingkungan dan dengan warga masyarakat sekitar;
  • mendorong warga Lingkungan agar berperanserta dalam kegiatan-kegiatan RT/RW setempat;
  • mengikutsertakan umat Lingkungan dalam peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga warga Lingkungan, seperti kelahiran, pembaptisan, pertunangan, perkawinan, sakit dan kematian;
  • mewujudkan solidaritas kepada warga Lingkungan yang menderita dan berkekurangan, yang sakit dan yang lanjut usia;
  • memperhatikan anak-anak supaya mereka mendapatkan pendidikan Katolik sejak dini dan memperhatikan kaum muda agar mereka didampingi dalam pembentukan nilai-nilai Kristiani;
  • bekerjasama dengan seluruh warga Lingkungan untuk menemukan ungkapan - ungkapan kreatif yang melibatkan semakin banyak warga;
  • mengusahakan agar warga Lingkungan yang belum bisa aktif tetap disapa dan dijadikan bagian dari persaudaraan Lingkungan.
4. Pengurus Lingkungan bertanggung jawab kepada Dewan Paroki Harian.

Selain memperhatikan kebijakan pastoral yang ditetapkan oleh Pastor Paroki, Ketua Lingkungan juga harus bekerjasama dengan anggota ligkungan agar Lingkungan dapat mengelola Kas Lingkungan untuk keperlua Lingkungan itu sendiri.**fh

P. Karl Klein, MSF
Pastor Karl Klein, MSF - adalah seorang misionaris asal Jerman dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus atau Congregatio Missionariorum a Sacra Familia (MSF). Biografi pastor ini belum diperoleh hingga peluncuruan tulisan ini. Kita berharap bahwa biografi para misionaris yang pernah berkarya di Keuskupan Palangka Raya dapat diperoleh dari sumber-sumber terpercaya (sedang dalam pencarian dokumen).

Yang dapat disebutkan di sini adalah bahwa Pastor Karl Klein, MSF merupakan pastor paroki pertama di Paroki St. Maria Palangka Raya. Beliau ditetapkan sebagai pastor paroki oleh Mgr. W. Demarteau, MSF bersamaan pada saat pemberkatan gedung (tempat Aula Nasareth saat ini) pada tanggal 01 Maret 1963. Tanggal ini kemudian didedikasikan sebagai Hari Ulang Tahun Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Kehadiran P. Karl Kalein, MSF di Kota Palangka Raya pada masa itu sangat membantu perkembangan kehidupan iman umat, bukan hanya di kota Palangka Raya, tetapi juga di daerah-daerah sekitar yang sering dikunjungi seperti Pulang Pisau, Sungai Kayu, dan lain-lain. Dari Palangka Raya misi Gereja Katolik melebar ke Kuala Kapuas dan Kuala Kurun. Pada tahun 1965 dibuka karya misi yang baru di daerah Barito Selatan yaitu wilayah Tamiyang Layang dan Ampah.

Pada tahun 1964 P. Karl Klein, MSF mendirikan pastoran. Pastoran yang dibangun ini kemudian menjadi rumah suster-suster SFD. Bangunan tersebut telah dibongkar dan Pastoran yang baru, rumah Pastor saat ini, dibangun di tempat itu. Jumlah umat Katolik di Palangka Raya dan sekitarnya semakin berkembang sehingga gedung gereja yang ada sudah tidak dapat menampung lagi jumlah umat yang beribadat. Berdasarkan situasi ini, tercetuslah ide untuk membangun gereja baru. Pembangunan Gereja baru dimulai pada tahun 1965. Perayaan peletakan batu pertama dihadiri Mgr. W Demarteau,MSF, Bapak Tjilik Riwut dan disaksikan oleh Pastor Paroki dan segenap umatnya. Batu pertama tersebut diletakkan di sebuah tembok segi empat, di sebelah kanan altar dan di dalamnya juga diletakan dokumen pembangunan pendirian gereja.

Gedung gereja baru dirancang oleh Bruder Longinus MSF. Kepada bruder ini, Bapak Tjilik Riwut berpesan agar memasukkan unsur-unsur angka 17, 8 dan 45. Hal ini dapat dilihat pada jumlah tiang gereja yang berjumlah 17 (tujuh belas), bentuk gereja
merupakan segi (8) delapan dan tegel pertama altar berjumlah 45 (empat puluh lima) buah.Seluruh biaya pembangunan gereja ini ditanggung oleh Keuskupan Banjarmasin. Gedung gereja ini (sekarang Gedung Serba Guna Tjilik Riwut) diberkati dan diresmikan penggunaannya oleh Mgr. W.Demarteau, MSF pada tanggal 03 April 1967.

Pada masa Pastor Klein sebagai pastor paroki, yakni pada tahun 1967, dibangun gedung pendidikan yakni gedung SD Katolik St. Yohanes Don Bosco dan gedung SMP Katolik St. Paulus.

Pada tahun 1969, Pastor Karl Klein menyerahkan jabatan sebagai pastor paroki kepada Pastor Frans Yan, MSF.

Dikutip dari Buku Kenangan 50 Tahun Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Pada tahun 1907 Misi Gereja Katolik mulai dirintis kembali di wilayah Kalimantan Timur tepatnya di Laham oleh para misionaris Ordo Kapusin yang berpusat di Pontianak–Kalimantan Barat. Ordo Kapusin merasakan daerah pelayanannya terlalu luas, maka pada tahun 1926 Ordo Kapusin menyerahkan wilayah Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan kepada Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) .

Pada peristiwa penyerahan itu, wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan disebut “Bagian Selatan” (Zuederafdeling). Tahun 1835 Zending Protestan sudah masuk ke daerah Kalimantan Selatan dan Tengah. Menurut sebuah perjanjian dalam Artikel 177 RR (Regerings Reglement) tentang Zending Ganda, tidak diperbolehkan misi Katolik dan sending Protestan berkarya bersama-sama pada satu daerah. Ternyata aturan ini tidak lagi diberlakukan lagi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.

Jika antara tahun 1907–1935 karya misi hanya berkembang pesat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, maka setelah Artikel 177 tidak berlaku lagi, wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah terutama di pedalaman sangat menarik perhatian para misionaris MSF (Keluarga Kudus). Pada awal tahun 1935 Kota Banjarmasin mendapat kunjungan oleh para pastor MSF dari Kalimantan Timur. Kunjungan-kunjungan itu lebih merupakan pelayanan atas beberapa umat Katolik yang tinggal di kota Banjarmasin dari berbagai bangsa terutama penduduk yang datang dari Eropa, Jawa dan Cina.

Tanggal 21 Mei 1938, Prefektur Apostolik Banjarmasin didirikan, setelah proses pendiriannya memakan waktu selama tujuh tahun. Wilayah Prefektur Apostolik ini meliputi Kalimantan Selatan, Timur dan Tengah dengan Prefektur Apostolik pertama P.Y Kusters, MSF. Sebelas tahun kemudian, yakni, pada tahun 1949 setelah kemerdekaan Indonesia, status Prefektur Apostolik ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik dengan Vikaris Apostolik dijabat oleh Mgr. J. Groen, MSF.

Dari Banjarmasin inilah, karya misi Gereja Katolik melebarkan sayapnya ke pedalaman Kalimantan Tengah di kalangan suku Dayak. Hingga tahun 1952 masih diadakan penjajakan-penjajakan. Namun sebelum mencapai kemungkinan pengembangan lebih lanjut karya misi Gereja Katolik di Kalimantan
Tengah, Mgr. Groen, MSF meninggal dunia pada tahun 1953. Sebagai penggantinya, pada tahun 1954 Pastor muda W. Demarteau, MSF yang baru berusia 34 tahun diangkat sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin.

Dalam kurun waktu 1952–1965 baru dibuka stasistasi sentral sebagai pusat pelayanan. Pada tahun 1954, Stasi pertama dibuka di Sungai Barito (Kalimantan Tengah) tepatnya di Muara Teweh. Stasi ini kemudian menjadi pusat pelayanan wilayah sungai Barito. Dari Muara Teweh berkembang ke Buntok (1965), Puruk Cahu (1966) lalu masuk sungai-sungai kecil antara lain, Teweh, Montalat, Ayuh dan sekitarnya.

Mgr. W. Demarteau, MSF
Foto dari: www.keukupan-banjarmasin.org

Mengingat wilayah karya Vikariat Apostolik Banjarmasin terlalu luas dan untuk mempermudah karya pastoral, maka Mgr. W. Demarteau, MSF selain membuka stasi-stasi baru sebagai pusat pelayanan, juga berusaha untuk menyelesaikan pemisahan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang telah diusulkan oleh pendahulunya Mgr. Y. Groen, MSF.

Dengan data-data aktual tentang Kalimantan Timur yang dikumpulkan oleh Mgr. W. Demarteau, MSF dan setelah melalui berbagai proses yang melelahkan, akhirnya Roma menyetujui pemisahan Kalimantan Timur dari Vikariat Apostolik Banjarmasin. Pada tanggal, 25 Februari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda didirikan dan Mgr. W.Demarteau, MSF diangkat menjadi Administrator Apostolik sampai dengan empat bulan kemudian tanggal 10 Juli 1955, P. J. Romeijn, MSF diangkat menjadi Vikaris Apostolik Samarinda yang pertama dan ditahbiskan di Wessenar Belanda pada tanggal 15 September 1955.

Setelah daerah misi Kalimantan Timur resmi menjadi Vikariat Apostolik yang baru, dan terlepas dari
Banjarmasin maka Mgr. W. Demarteau, MSF lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan misi di pedalaman Kalimantan Tengah secara intensif. Pada tahun 1952 Sampit ditetapkan sebagai Stasi Pusat pelayanan di wilayah sungai Mentaya, Seruyan, Katingan dan sekitarnya. Pangkalan Bun dibuka
menjadi stasi pada tahun 1965 sebagai sentra pelayanan di daerah sungai Lamandau, Arut dan sekitarnya.

Dikutip dari Buku Kenangan 50 Tahun Paroki St. Maria Palangka Raya

Dewan Pastoral Paroki St. Maria, Gereja Katedral Palangka Raya
Periode 2017-2019

DPP masa bakti 2017-2019 di Paroki St. Maria Palangka Raya telah dilantik oleh Mgr. Aloysisus M. Sutrisnaatmaka, MSF pada Minggu, 29 Januari 2017. Personil DPP yang dilantik telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskupa Palangka Raya Nomor: SK/USKUP/05-DP/I/2017.

Penetapan DPP berdasar pada Ketentuan Hukum Kanonik 536, 1 & 2, Anggaran Dasar Dewan Paroki yang tertuang dalam Vademecum Pasotral Keuskupan Palangka Raya dan juga atas Surat Permohonan Pastor Paroki Katedral St. Maria Palangka No. 15/SP-P.SK/DP.SM/2017. Berikut ini adalah susunan DPP Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya Periode 2017-2019.

Ketua Umum
RD. Patrisius Alu Tampu

Wakil Ketua Umum
RD. Constantius Gatot Wibowo

Ketua I
Dr. F.X. Manesa, M.Pd

Ketua II
Julius I.P. Situngkir, S.H.

Sekretaris I
Dominggos Neves, S.Hut, M.Si

Sekretaris II
Stefanus Dh. Mangu, S.E.

Bendahara I
Frans Martinus, S.E.

Bendahara II
Lamria Simamora, S.E, M.Si

B I D A N G  -  B I D A N G

Bidang Liturgi

Koordinator
Fidelis Harefa, S.H.

Seksi Misdinar
Katarina Ani Liani, S.E.
Sr. Hermina Beding, SSpS

Seksi Lektor dan Mazmur
Viktor Rinus Raja Odja, S.S.
Agustiani Evodia

Seksi Koor dan Organis
Silvester Adinugraha, S.S, M.Hum
Frederikus Sukadiman, S.Pd
Edy Dwi Suharsono

Bidang Pewartaan

Koordinator
Benyamin Tunti, S.Fil

Seksi Sekolah Minggu dan Sekami
Henny Every, S.Ag
Rosalia Udes, S.Ag
Sesilia Astuti, S.Ag
Tiur Tina Tobing, S.Ag

Seksi Litbang dan Komunikasi
Dr. Joni Pambelum, M.Si
Frida Smith, S.T, M.T
Timotius, S.Fil, M.Th
Ernes
Wilibrodus Mengandika Wicaksono

Seksi Kerasulan Keluarga
Dr. Paskalis Pendi Sinulingga, M.Si
Patrisius Manpul S.P.

Bidang Pelayanan

Koordinator
Gregorius Doni Senun, S.Pd

Seksi Pengembangan Ekonomi
Yohanes Cangking, S.E.

Seksi Sosial (Pelayanan Kepada Pengungsi, Orang Sakit dan Umat dari Luar Paroki)
dr. Theodorus Sapta Atmadja
dr. Herry Tjahyono
Carolina Wiwiek Handayani
Mariati Tukimun

Seksi Rumah Tangga (Pastoran dan Gereja)
Dra. Anna Seltina
Sesilia Sri Lingga
Veronika Sherlywati

Seksi Duka
Eduardus Beny Santoso, S.P, S.Pd
Aloysius Sudirman

Seksi Aset dan Pembangunan
Antonius Rosa Kridaleksana, S.T.
Hendra Wiriawan, S.T.

Bidang Persekutuan

Koordinator
Dr. Yosef Dudi, M.Si

Seksi Kerawam/HAK
Dr. Marselinus Heriteluna, M.Kes

Seksi Kepemudaan
Yulianus Dani Nahar, S.P.
Raden Yulius Winata, S.H.

K E T U A  -  K E T U A   L I N G K U N G A N

Lingk. St. Anna
Yohanes Nico Ilay, S.T.

Lingk. St. Ignatius
Tarsisius Budiono

Lingk. St. Bernadetha
Titin, S.T.

Lingk. St. Sisilia
Mateus Sutaryo

Lingk. St. Clara
Yustinus Hendra, S.St, M.T, M.Sc

Lingk. St. Yohanes
Dra. Mariane Tinse, M.Pd

Lingk. St. Laurentius
Laurus Yuserto, S.Pd

Lingk. St. Antonius
Mandau R.A. Kindangen

Lingk. St, Maria
Antonius Tukimun

Lingk. St. Theresia
Andreas Jonggur Sihombing, S.P.

Lingk. St. Lukas
Drs. F.A. Endro Suryanto, M.Or

Lingk. St. Fransiskus Xaverius
Arpete Pancar Gaman, S.Pd

Lingk. St. Arnoldus Jansesn
David Hartono

Lingk. St. Yosef
Andreas Rahmat Susiandi, S.T.

Lingk. St. Petrus
Andreas R. Djumianto, BBA

Stasi St. Antonius Klampangan
Antonius Supardjono

Paroki Katedral St. Perawan Maria Palangka Raya tidaklah terbentuk tanpa proses sejarah yang mengawalinya. Sebelum menyandang sebutan “Paroki Katedral”, ada beberapa peristiwa penting yang mengisi perkembangannya. Peristiwa-peristiwa itu diawali dengan masuknya misi Katolik di Kalimantan Tengah.

Misi Katolik masuk Kalimantan Tengah melalui wilayah Banjarmasin-Kalimantan Selatan. Berawal dari kesepakatan antara pihak Portugis dan Sultan Banjarmasin pada tahun 1687, yang menjanjikan seorang misionaris untuk tinggal dan mendirikan Gereja Katolik di Banjarmasin. Janji Portugis terpenuhi ketika seorang Pastor dari Ordo Theatijn bernama Antonio Ventimiglia tiba di Banjarmasin dari Goa-India pada tanggal 02 Februari 1688 dengan menumpang sebuah kapal Portugis.

Di Banjarmasin, Pastor Ventimiglia berkenalan dan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang Dayak Ngaju. Pastor Ventimiglia tidak terlalu lama menetap di Banjarmasin karena beliau tidak diperbolehkan oleh orang Portugis untuk menetap di sana. Jadi untuk sementara ia pergi ke Macao sambil menanti kapan secara pasti diizinkan untuk tinggal dan menetap di Banjarmasin. Keinginan Pastor Ventimiglia untuk bermisi di Kalimantan baru terpenuhi ketika beliau diperbolehkan oleh pimpinannya dan penguasa Portugis di Macao. Pada tanggal 18 Januari 1689 beliau tiba di Banjarmasin dari Macao dengan menumpang sebuah kapal Portugis. Di atas kapal itu, Pastor Ventimiglia bertemu dengan seorang Dayak Ngaju yang adalah seorang budak belian orang Portugis. Ia diizinkan kembali ke tanah airnyaKalimantan. Perjumpaan Pastor Ventimiglia dengan sang budak ini membangkitkan rasa solidaritas misioner dalam hatinya untuk memilih tinggal di antara orang Dayak dan melayani mereka, demi mengalami suatu kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Bagi Ventimiglia, Banjarmasin bukanlah sebuah tempat yang tepat untuk mewujudkan karya misinya Ia memilih untuk pergi melayani ke daerah-daerah pedalaman. Bersama sang budak yang dijumpai di atas kapal dalam perjalanan dari Macao ke Banjarmasin, mereka naik perahu yang dilengkapi dengan sebuah altar untuk mempersembahkan korban misa, menyusuri sungai Barito dan masuk ke pedalaman sungai Kapuas. Disepanjang perjalanan Pastor Ventimiglia mengadakan kontak dan hubungan yang baik dengan penduduk asli, termasuk para tokoh masyarakat seperti para Temanggung (Tomungon) dan Damang (Daman) dan Raja Sindun.

Sejarah mencatat bahwa akibat jalinan hubungan yang sangat baik dengan penduduk asli, Pastor Ventimiglia berhasil membaptis 3000 orang asli (Dayak) manjadi Katolik. Kepiawian Pastor Ventimiglia dalam sistem pendekatan dan pola pergaulannya menyebabkan ia diterima baik di antara penduduk asli. Ia sendiri sangat mahir berbahasa penduduk setempat dan sangat menghargai budaya mereka. Disinyalir, pusat kegiatan Pastor Ventimiglia adalah kampong bernama Manusup, yang terletak di tepi sungai Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas.

Nampaknya karya misi Pastor Ventimiglia di antara orang-orang asli mengalami perkembangan baik. Oleh karena itu teman-temannya berusaha untuk membantu karya misi ini. Sangat disayangkan, usaha-usaha tersebut selalu mengalami hambatan. Sultan Banjarmasin tidak pernah mengizinkan para misionaris ini mudik ke pedalaman apalagi ke tempat karya misi Pastor Ventimiglia. Di luar dugaan bahwa ternyata perkembangan karya dan keakraban Pastor Ventimiglia dengan penduduk asli membawa kecurigaan bagi Sultan Banjarmasin.

Sultan tidak senang karena pada saat itu juga Sultan Banjarmasin mempunyai masalah dengan orangorang asli yang kebetulan akrab dengan Pastor Ventimiglia. Di samping itu juga, Sultan tidak menginginkan pengaruhnya di kalangan suku Dayak berkurang gara-gara kehadiran Pastor Ventimiglia.

Ternyata sikap Sultan juga didukung oleh para penguasa Portugis yang berkedudukan di Banjarmasin. Mereka tidak senang dengan kedekatan dan kegiatan Pastor Ventimiglia di atara orang-orang asli karena mereka tidak ingin kehilangan pengaruh ekonomis dan politis atas Kesultanan Banjarmasin. Untuk mengurangi pengaruh Pastor Ventimiglia di antara orang-orang asli, Sultan Banjarmasin memanggil Pastor Ventimiglia untuk dimintai keterangan sambil mengajak kerja sama. Namun maksud Sultan ini telah dibaca dan diketahui oleh Pastor Ventimiglia, karena itu ia memilih untuk tidak mengindahkan panggilan Sultan.

Tahun 1891 Pastor Ventimiglia meninggal dunia. Ada begitu banyak pendapat tentang akhir hidup Pastor Ventimiglia. Pendapat yang dominan mengatakan bahwa Pastor Ventimiglia dibunuh atas perintah Sultan Banjarmasin karena ia dianggap sebagai orang yang dapat menepis pengaruh Sultan atas orang-orang Dayak.

Meninggalnya Pastor Ventimiglia menyebabkan tatanan hidup umat mengalami keguncangan. Banyak umat yang telah dibabtis secara Katolik mundur secara perlahan-lahan dan kembali kepada kepercayaan dan kebudayaan asli mereka seperti semula. Hal ini dapat dimengerti karena mereka belum memahami secara mendalam tentang iman dan ajaran agama Katolik. Menurut beberapa Pendeta dari Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) dan para peneliti sejarah, sisa-sisa ajaran agama Katolik yang masih tertinggal dan melekat pada budaya Dayak adalah tanda salib. Lukisan tanda salib itu dinamai oleh orang Dayak Nagju “Rajah”, yang berkhasiat magis untuk menolak bala (malapetaka).

**dikutip dari Buku Kenangan 50 Tahun Gereja Katolik Palangka Raya.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget