Bingung di Ambang Teknologi Modern

Suasana kemodernan  saat ini sungguh luar biasa. Siapapun, pasti berdecak kagum dan mengakui bahwa kemodernan yang  tengah    berkembang   disebabkan oleh  keberhasilan  teknologi sebagai  buah sejati ilmu pengetahuan. Teknologi yang  meletakan dasar modernitas mempunyai hubungan dengan asal dan perkembangannya di dunia barat. Dan bagaimana  bangsa Indonesia tersinggung kemodernan, tentu tidak lain melalui ilmu pengetahuan dan  relasi dengan bangsa-bangsa lain, terutama dengan bangsa-bangsa barat.

Pengaruh yang  kuat ini,  membawa kesadaran   bahwa  de facto  bangsa kita tidak akan pernah berdiri sendiri. Urgensi kebutuhan  menuntut kita  untuk  tetap memerlukan  bangsa yang lain. Kontak dengan bangsa lain menjadi tuntutan  yang tidak mungkin dihindari. Melalui kontak itu, terciptalah peluang untuk menerima pengaruh-pengaruh  dari pengetahuan-pengetahuan baru yang berguna  untuk mengubah kondisi hidup sosial kita. Penerimaan pengetahuan - pengetahuan  yang baru, jelas membawa kemungkinan  bagi perkembangan bangsa dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam rangka perubahan sosial yang merupakan akibat logis dari kontak dengan   bangsa lain,  perlu diperhatikan dua akibat penting yang dikenal sebagai difusi dan  akulturasi. Suatu akibat dengan bentuk difusi terjadi apabila kontak dengan bangsa lain mengakibatkan salah satu sektor dalam kehidupan sosial  yang berubah  dan berkembang, mengikuti model yang dimasukan dari bangsa lain. Sebagai  misal, bila kita mengambil alih sistem pertanian dengan penggunaan teknologi seperti  traktor, bolduser, eskafator, maka ini kita kwalifikasikan sebagai difusi dari unsur kebudayaan lain yang kita terima dalam kehidupan sosial kita.

Sedangkan apabila kontak dengan bangsa lain, mengakibatkan pengambilalihan model budaya kita hampir dalam semua bidang, maka ini disebut akulturasi. Seperti hubungan dengan dunia barat yang melahirkan teknologi dengan segala sistem dan corak bangsa yang dibawa sebagai akibat teknologi itu.

Teknologi yang diterima memang  berguna untuk meningkatkan taraf hidup  bangsa kita.  Tetapi tidak semua proses penerimaan itu mendatangkan akibat positif. Di pihak lain melalui penerimaan itu, ada pula akibat negatif yang dapat mencemari dan merugikan budaya bangsa. Sebab transformasi budaya yang disebabkan oleh teknologi maju  justeru akan menimbulkan semakin karibnya hubungan kita dengan teknologi. Dan apabila hubungan itu berakibat kita  dikendalikan oleh teknologi maka nilai-nilai dasar budaya yang ada akan mengalami erosi. Akhirnya dengan mudah kita dikuasai oleh teknologi dan bukan sebaliknya.

Kita lalu tenggelam dalam ciptaan sendiri dan menggantungkan nasib keberuntungan pada kondisi yang  kita bentuk sendiri. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan suasana confuse yang  menurut  Frank Lloyd,  akan membuat kita seperti “ternak goblok” atau kawanan semut yang berputar-putar bingung mencari lubangnya. Kita bingung karena kehilangan pegangan. Kita terperosok di antara  simpang nilai-nilai lama dan nila-nilai baru yang kita terima, sementara itu laju dan kepesatan teknologi semakin menggulir  dalam arus  waktu yang terus mengalir.

Mempertimbangkan kemungkinan  ini,  maka sikap selektif terhadap teknologi yang  kita terima perlu dipertajam dengan tetap bertumpu pada perspektif nilai budaya yang kita sandang.  Kita  tetap perlu mencermati   dampak teknologi yang memang sulit  dielaki. Kecermatan dapat membantu kita untuk tidak gegabah  mengambil teknologi yang dapat mencemarkan citra budaya bangsa sendiri.

Sikap kritis dalam menerima teknologi, menurut J. Sudarminta,  sungguh sangat dibutuhkan, karena teknologi dapat membawa dampak negatif. Di satu pihak kemajuan teknologi dapat membebaskan kita dari kungkungan determinasi alam lingkungan dan susah payah kerja fisik, sehingga martabat kita dapat diangkat. Di lain pihak, potensi dan ketidak seimbangan alam lingkungan menimbulkan masalah-masalah yang sulit dipecahkan.

Fisika dan teknologi nuklir di satu pihak telah memberi tenaga listrik yang relatif murah, tetapi di lain pihak menciptakan tenaga nuklir yang mengancam keberadaan kita sendiri. Rekayasa genetika membantu meyejahterakan hidup kita  melalui bidang pertanian, peternakan dan pengobatan, dilain pihak memungkinkan kita untuk memanipulasi hidup sesama. Jadi dengan teknologi kita  bisa menolong diri, tetapi sekaligus bisa menghancurkan diri sendiri.
           
Terhadap dampak teknologi yang dapat menimbulkan problem majemuk, Budi Hardiman lebih jauh  melihat bahwa teknologi  adalah produk rasionalisasi sistem yang merupakan hasil persetujuan dengan dunia kehidupan (Lebenswelt). Ia mencakup sistem kerja, sistem informasi dan iklim tehnis yang terangkum dalam rasionalitas instrumental dan sistem-sistem administratif. Ia tidak berjalan sendirian.  Ia muncul karena ada persetujuan dari dunia sekitar dan karena adanya apresiasi masyarakat sehari-hari yang menyetujuinya.

Karena itu apabila teknologi yang in se  produk dunia barat, begitu saja diterima tanpa menyadari kharakteristiknya yang memuat imperatif-imperatif obyektif dan tanpa memperthitungkan kondisi bangsa kita, maka akan muncul patologi-patologi sosial. Sebagai contoh, teknologi yang berkembang saat ini, mulai mendikte moral kehidupan masyarakat. Teknologi yang berlogikakan “kalau mungkin…berarti bisa” akhirnya menerjang dunia moral dengan logika lebih lanjut “ kalau bisa….berarti boleh”.     Dengan demikian bidang kehidupan dan bidang moralita masyarakat  seolah hanya mengadaptasi terhadap  perkembangan teknologi yang demikian pesat.

Akibat yang muncul  Pertama,  krisis seperti : krisis moralitas, krisis makna, krisis kebudayaan, desintegrasi sosial, muncul utilitarianisme, individulisme, hedonisme dan eksploitasi berlebihan yang membawa keterasingan pada bangsa kita serta penghancuran  lingkungan atau sumber alam ( natural resources).

Kedua, kalau pada masyarakat muncul dan mengakar  apa yang disebut “Mentalitas Teknologi” yaitu sikap percaya yang berlebihan pada teknologi, seolah-olah  segala sesuatu bisa dipecahkan olehnya dan sesuatu akan lebih meyakinkan kalau dilakukan dengan peralatan yang canggih  dan perhitungan kwantitatif. Di sini ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam arti tertentu menjadi agama sekular.

Ketiga, mentalitas seperti ini menurut sinyalemen Prof. T. Jacob, cepat tertular pada kaum muda. Kaum muda lebih mudah terkesan oleh prestasi-prestasi riil yang disumbang oleh teknologi. Kadang-kadang mereka cepat menilai dan menganggap ilmu dan teknologi sebagai juruselamat sejati yang dapat memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Jadi dalam situasi kebimbangan  teknologis seperti ini, apresiasi terhadap kepesatan tehnologi menjadi conditio sine qua non untuk bangsa yang sementara membangun di Indonesia. Sebab kita tidak bisa menyangkal bahwa di balik pesatnya  teknologi muncul implikasi-implikasi praktikal. Karena itu, diharapkan agar para konseptor pendidikan dan   pembangunan, mengusahakan langkah-langkah kebijakan dengan bertolak  dari pertimbangan-pertimbangan etis, moral  dan keagamaan.  Sehingga walaupun perkembangan teknologi semakin pesat dan kita pun  bergulir bersamanya, namun masih dapat dimbangi dengan suatu pegangan regulatif yang memungkinkan citra budaya bangsa kita tetap terlindung di tengah arus teknologi yang de facto melingkupi kita.

Secara garis besar langkah-langkah  kebijakan yang mungkin  adalah : Pertama, menanamkan dan mengembangkan consientisasi (proses penyadaran) historis  (secara objektif) melalui media-media edukatif yang dapat memberikan keinsafan kepada masyarakat khususnya generasi muda, bahwa  sejak dahulu bangsa Indonesia  bertumbuh dan berkembang dalam suatu tataran budaya yang mengandung potensi-potensi  tehnologis, yang telah  menghantarnya   menuju suatu puncak keberhasilan  dan bahkan tercatat dalam lembaran sejarah masa lalu sebagai bangsa yang  pernah mengalami masa-masa keemasan. Consientisasi historis ini dimaksudkan agar walaupun adaptasi bangsa kita dengan perkembangan teknologi semakin kuat, namun masyarakat tetap memiliki landasan historis yang  kokoh sehingga tidak mudah tercabut dari akar budaya sendiri.

Kedua, perlu dikembangkan sikap saling menghargai diantara kaum elite bangsa, para penentu kebijakan dan para pengelola administrasi publik, karena   mereka semua adalah agen komplementer yang memiliki latar belakang pengetahuan dan keahlian spesifik untuk saling melengkapi dalam rangka menghantar bangsa ini kepada suasana  bonum commune (kesejahteraan bersama).   Sedapat mungkin dihindari pemaksaan keahlian teknologis tanpa komunikasi disipliner antar para subyek penentu bangsa. Pemaksaan keahlian teknologis yang dinilai belum urgen menjawabi kebutuhan bangsa, hanya dapat mengakibatkan lilitan problem yang penyelesaiannya bagaikan mengurai benang basah. Dan karena itu, terpaksa diintervensi “orang luar” yang bayarannya seringkali  bersifat mempertaruhkan harga diri bangsa.

Ketiga, menanamkan nilai-nilai religius sebagai bingkai sejati bagi aklak bangsa.  Nilai religius dapat mempertajam kesadaran diri sebagai  ciptaan yang bercitra luhur, sebab di dalam diri manusia tertitip percikan daya Ilahi  berupa  “suara hati nurani” yang memberi kemampuan baginya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam hal ini, bangsa yang memilik landasan religius yang kokoh  tidak akan merasa takut   untuk membuka diri terhadap perubahan, karena nilai-nilai religius yang digenggamnya dapat membantu untuk bersikap selektif terhadap nilai-nilai baru yang terkandung dalam arus perkembangan tehnologi.**  Rm. Frieds Meko, SVD

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget