Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF
Uskup Keuskupan Palangka Raya
Dari pengamatan sepintas didapat kesan bahwa ada dua gejala mewarnai kenyataan iman umat akan Ekaristi. Pertama, kerap kita saksikan di beberapa gereja, perayaan Ekaristi dihadiri oleh banyak umat, baik pada hari Minggu maupun pada hari-hari biasa. Gejala ini umumnya dirasakan sebagai sesuatu yang menggembirakan. Orang lalu berkata: iman umat, khususnya yang berkaitan dengan Ekaristi cukup kuat. Banyak umat yang datang dikaitkan dengan kualitas iman mereka. Benarkah? Bahwa umat berbondong-bondong menghadiri perayaan Ekaristi kiranya belum menjamin kuat dan sehatnya iman yang disertai dengan pengertian yang tepat. Bisa jadi, pengertian yang ada dangkal dan motivasi egoisme, mengutamakan kepentingan diri di atas maksud gereja dalam merayakan Ekaristi; melulu mencari kesembuhan fisik, agar lulus ujian, naik pangkat, dan sebagainya.

Kedua, gejala sebaliknya: pada hari Minggu, gereja tidak penuh, apalagi pada hari-hari biasa. Padahal menurut statistik, jumlah umat di paroki itu lebih dari sekian ribu. Kemana yang sekian ratus umat pada hari Minggu itu? Mingkin ke gereja lain, kalau di kota itu ada beberapa gereja? Atau mungkin sama sekali tidak ke gereja. Ada sekian persen dari jumlah umat yang termasuk jemaat "Napas" (Natal Paskah). Terbukti dari membludaknya pengunjung gereja pada hari raya itu.

Spontan kita bertanya: apa sebabnya bisa begitu? Apakah Ekaristi kurang dipahami dan dimengerti maknanya, sehingga kurang dihayati? Ataukah Ekaristi cukup dipahami, namun tidak peduli pada penghayatannya? Yang lebih memprihatinkan lagi: kalau kebanyakan dari sedikit umat yang datang ke gereja ikut perayaan Ekaristi mempunyai pemahaman dan pengertian yang kurang tepat serta penghayatan yang kurang sehat. Memang tidak mudah mencari kaitan antara pengertian atau pemahaman dan penghayatan, apalagi kalau kita tidak mendasarkan keduanya pada pengkajian yang teliti dan kongkrit. Tulisan singkat ini hanya dimaksudkan untuk membantu merenungkan harapan seperti terungkap dalam ujud umum yang pernah dicanangkan oleh Gereja.

1. Ekaristi sebagai Puji Syukur, Korban serta Perdamaian

Konsili Vatikan II membuahkan hasil pertama berupa Konsili Liturgi (KL) yang dikeluarkan pada tanggal 4 Desember 1963. Konstitusi itu ingin mengadakan pengembangan dan pembaharuan Liturgi pada umumnya (bdk. Pendahuluan dan Bab I). Bab II secara khusus membahas "Misteri Ekaristi Tersuci". Dalam salah satu bagian dari bab itu ditegaskan: "...Gereja menjalankan usaha dengan prihatin, agar umat Kristen tidak menghadiri misteri iman ini sebagai orang luar atau penonton bisu, melainkan memahaminya dengan baik, melalui upacara dan doa, lalu berperan serta dalam kegiatan suci dengan sadar, saleh dan aktif; diajar oleh Sabda Allah, disegarkan oleh meja perjamuan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah, belajar mempersembahkan diri mereka sambil membawakan kurban tak bernoda, ... (KL. 48).

Kutipan ini menegaskan beberapa hal yang patut digaris-bawahi. Jelas kiranya konsili mengharapkan agar umat memahami misteri Ekaristi dengan baik. Sebenarnya agak rumit untuk dijelaskan bahwa "misteri" Ekaristi harus "dipahami dengan baik". Yang namanya "misteri" memang mengatasi daya tangkap dan akal budi manusia. "Misteri" mengandung sesuatu yang ilahi, yang dari atas, berasal dari Allah. Demikian itu berlaku untuk misteri Ekaristi. Pemahaman intelektual koqnitif pasti tidak memadai untuk mengerti Misteri Tersuci itu. Namun tidak berarti bahwa manusia di hadapan misteri itu tidak bisa berbuat apa-apa. Justru melalui perayaan, upacara, devosi, prosesi, doa dan bentuk-bentuk kebaktian lainnya, misteri dapat dihayati oleh orang beriman.

Bertolak dari kata "eucharistia" seperti misalahnya dipakai dalam 1 Kor. 11:24; Lk. 22:19, kita dapat memahami arti Ekaristi sebagai perayaan untuk mengucap "syukur". Latar belakang doa Yahudi mengungkapkan sikap dasar manusia di hadapan Allah sebagai ciptaan-Nya. Manusia merasa kagum akan Sang Pencipta yang telah menunjukkan karya agung-Nya kepada umat manusia.

Orang Israel mempunyai pengalaman akan Yahwe yang campur tangan dan membimbing sejarah keselamatan mereka. Kelimpahan hasil panen untuk hidup mereka, pembebasan dari perbudakan mesir, pemberian Hukum Taurat, penganugerahan tanah terjanji, semua itu merupakan tindakan Allah yang dialamai umat Israel dan patut disyukuri serta dirayakan dalam perjamuan Paskah. Demikian Yesus yang hidup dalam budaya dan agama Yahudi menjalankan ibadat perjamuan Paskah serta memakai doa-doa yang ada sambil menciptakan dan memberi makna baru terhadap apa yang dilakukannya.

Gereja Kristen Perdana mengambil titik awalnya pada Perjamuan Tuhan sebagai dasar untuk mengadakan Ekaristi. Itulah wasiat yang diberikan oleh Yesus. Mereka berkumpul untuk mengadakan peringatan akan wafat dan kebangkitan-Nya sambil menantikan kedatangan-Nya kembali. Di waktu selanjutnya, Gereja melestarikan dan memperkembangkan apa yang sekarang di sebut sebagai "Doa Syukur Agung". Pada doa itulah ucapan puji syukur dilambungkan serta doa permohonan untuk turun-Nya Roh Kudus disampaikan. Melalui Roh Kudus itu pula kehadiran Kristus diimani. Ajaran Gereja menegaskan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi disebabkan oleh perubahan seluruh substansi (transubstansiasi) roti menjadi tubuh dan seluruh substansi anggur menjadi darah (Konsili Trente 1551; DS 1652).

Ajaran Gereja juga menghubungkan perayaan Ekaristi (yang diistilahkan oleh konsili Trente "Missa" dengan kurban: bahwa Kristus mempersembahkan kurban dan bahwa hal ini harus diteruskan di dalam Gereja. Rumusan selanjutnya seperti ada DS 1743 menegaskan bahwa dalam kurban ilahi yang diadakan dalam misa hadir (ada) Kristus yang mengurbankan diri satu kali secara tak berdarah. Kurban itu merupakan kurban silih yang menjadikan manusia memperoleh belaskasihan dari Tuhan. Kurban silih itulah yang membawa perdamaian kembali dengan Allah bagi manusia yang diampuni dosanya, dihapuskan segala kejahatannya serta memperoleh penebusan. Maka dapat juga dikatakan bahwa misa kudus merupakan "kurban" yang dikurbankan, karena dalam misa sekarang ini terlaksana kurban Kristus yang dulu telah dikurbankan di kayu salib.

Sehubungan dengan paham Ekaristi sebagai kurban, Konsili Vatikan II (KL 47) memberi penegasan lebih lanjut: "dalam perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan korban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan korban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan wafat dan kebangkitan-Nya; sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus di sambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang". Dengan pengertian ini, kita dapat mengerti bahwa dalam Ekaristi terlaksana karya penebusan kita yaitu perdamaian manusia dengan Allah melalui salib Yesus.

2. Ekaristi sebagai Sumber, Pusat dan Puncak Seluruh Hidup Kristen

Kegiatan Liturgi utamanya merayakan sakramen Ekaristi diarahkan untuk menguduskan manusia, "membangun tubuh Kristus dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah. Sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda. Maka disebut sakramen iman. Maka dari itu sangat pentinglah bahwa Umat beriman dengan mudah memahami arti lambang-lambang sakramen, dan dengan sepenuh hati sering menerima sakramen-sakramen, yang diadakan untuk memupuk hidup kristiani" (KL 59).

Kaitan erat antara berliturgi dan kegiatan hidup kristiani sehari-hari merupakan hal yang perlu diusahakan dan memang mendapat tekanan dalam ajaran Gereja. Pentingnya untuk ambil bagian dalam perayaan pertama-tama harus disadari sebagai ungkapan iman, penegasan identitas kita sebagai orang kristen. Tapi harus segera dilengkapi dengan pengertian bahwa melalui  perayaan liturgi itu iman kita sendiri diperkuat, dipupuk dan diperkembangkan agar iman menjadi semakin dewasa. Kedewasaan iman inilah yang pada gilirannya menjadikan seorang Kristen tangguh, militan, dapat memberi kesaksian yang vokal, dan berkualitas andal. Kedewasaan iman itulah yang menjadikan orang bisa lebih mandiri, lebih bersemangat dalam menjalankan karya perutusan, serta menjadikan dia seperti Yesus: "makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (LK 2:52).

Secara khusus, peranan Ekaristi dalam hidup seorang Kristen dilukiskan sebagai "sumber dan puncak hidup Kristen... Lalu sesudah dikuatkan dengan Tubuh Kristus dalam perayaan suci, mereka mengungkapkan secara konkrit kesatuan umat Allah" (LG art. 11). Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan sehubungan dengan fungsi Ekaristi di dalam Gereja. Yang pertama dalam hubungan dengan hidup jemaat "ke dalam", Ekaristi menjadi pusat, sumber serta puncak" seluruh semangat pewartaan, sekaligus pusat pertemuan umat beriman.

Yang kedua, dalam kaitan dengan hidup jemaat "ke luar": menunaikan tugas di dalam masyarakat, menjalankan tugasnya sehari-hari. Karena Ekaristi adalah pusat dan puncak sakramen-sakramen di dalam Gereja, maka pengungkapan iman dalam Ekaristi bukan hanya bersifat perseorangan, melainkan menyangkut seluruh Gereja secara resmi. Sejauh mana hal ini akan berhasil atau terlaksana dalam kenyataan; kiranya akan tetap sangat dipengaruhi oleh pemahaman akan arti lambang-lambang sakramen dan makna Ekaristi itu sendiri. Tanpa pemahaman dan pengertian yang mendalam, kekayaan dan makna Ekaristi akan tetap tersembunyi dan kurang dihayati.

Penutup

Penghayatan yang sehat akan makna sakramen dan liturgi pada umumnya kiranya memerlukan kedewasaan iman pribadi yang ditunjang oleh pengertian dan pemahaman yang benar tentang pokok ajaran iman. Demikian pula hal-hal yang menyangkut iman akan Ekaristi. Agar penghayatan Ekaristi tidak jatuh dalam tindakan magis (asal ikut Ekaristi semua beres, doa-doanya dikabulkan, bisa menjadi kaya karena tepat menebak lotre, dll), perlulah kita bertolak kembali pada iman yang sejati.

St. Yohanes memberi bahan renungan yang sangat berharga mengenai makna Ekaristi untuk setiap pribadi yang beriman akan Kristus. Berdasarkan sabda Yesus, ditulisnya: "Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah daging-Ku, yang akan kuberikan untuk hidup dunia..." (Yoh. 6:51; bdk. 57).

Hidup abadi setiap orang atau keselamatannya, itulah yang kiranya menjadi tujuan penghayatan Ekaristi bagi setia pribadi. Kita bersyukur bahwa Kristus telah mengorbankan hidup-Nya untuk keselamatan setiap orang melalui salib-Nya, yang mengalahkan maut dan menjadi sumber kemenangan atas dosa serta pendamaian dengan Allah.

Sedangkan dari segi penghayatan kebersamaan dan persatuan Gerejawi, St. Paulus mengajak kita merenung: "Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak adalah satu tubuh, karena kita mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (Kor 10: 16-17). Berdasarkan bahan renungan ini, mungkin kita makin tergugah untuk mengusahakan kerukunan, perdamaian serta kesatuan di antara kita, umat Gereja-Nya. **Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF - (dalam "Segi-segi Hidup Beriman 1: Ekaristi, Tanda Kesatuan Gereja dan Sumber Cinta Bagi Sesama).